Supir Mobil Pick Ini Sengaja Menjual LPG 3 KG Di Atas HET Ke Pengecer Dan Konsumen

Kedua kendaraan yang membawa tabung Gas LPG tersebut sedang parkir di depan salah satu rumah warga, Sabtu (25/06/23). (Dok. Istimewa)

waroengberita.com – Pangkalpinang | Kendaraan roda empat (mobil) mini bus jenis pick up dengan nomor polisi (Nopol) BN 8568 QB warna hitam bermuatan 49 tabung GAS LPG 3 Kg, tabung-tabung tersebut dalam keadaan berisi dan akan ditukarkan dengan tabung kosong yang dimuat dari mobil APV dengan Nopol BN 1817 PM.

Hasil pantauan tim media dilapangan, Kedua kendaraan yang membawa tabung Gas LPG tersebut sedang parkir di depan salah satu rumah warga, Sabtu (25/06/23) siang.

Menurut pengakuan supir mobil pick up yang enggan memyebutkan namanya, ia membeli tabung berisi Gas LPG 3 Kg dari Pangkalan Edi sahril daerah jerambah gantung dengan harga 20 ribu per tabungnya.

“Kita bukan pangkalan, berhubung Gas LPG sekarang sedang banjir dan saya juga ada toko, makanya orang pangkalan minta tolong untuk dijualkan agar cepat habis. Saya beli dari pangkalan dengan harga 20 ribu per tabung, kemudian saya jual lagi dengan harga 25 ribu per tabung, pangkalannya di daerah jerambah gantung depan Agen Iqro masuk dalam di perumahan” terangnya saat diwawancari tim media.

Kedua kendaraan yang membawa tabung Gas LPG tersebut sedang parkir di depan salah satu rumah warga, Sabtu (25/06/23). (Dok. Istimewa)

Terkait itu, supir mobil APV juga menjelas prihal serupa, ia mengakui bahwa memang betul membeli tabung Gas LPG 3 Kg dari supir pick tersebut dengan harga 25 ribu dan dijual lagi dengan harga 28 hinga 30 ribu pertabungnya.

“Saya membelinya dari supir pick up ini seharga 25 ribu pertabung dan akan di ecerkan ke kampung – kampung dengan harga 28 sampai 30 ribu pertabungnya,” ucap supir APV.

Mirisnya, supir mobil pick up tersebut sudah mengetahui harga eceran tertinggi (HET) di wilayah kota Pangkalpinang. Namun, ia sengaja menjual di atas HET demi meraup keuntungan pribadi.

“Karena Agen LPG terlalu banyak, se RT bisa 4 pangkalan, sedangkan permintaan agen masuk terus kemana mereka akan menjual, orang pangkalan mengharapkan kebutuhan rumah tangga juga kapan habisnya, untung juga nggak seberapa. Terus terang, kita juga mengambil celah ngambil untung 5 ribu, intinya macam itu,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan dihadapan tim media.

“Kenapa mesti takut, kitakan mencari makan, kita bukan maling,” tegasnya.

Berdasarkan informasi tersebut, tim media melanjutkan pengecekan pangkalan yang dimaksud. Alhasil, tidak ditemukan nama pangkalan Edi sahril di seputaran wilayah jerambah gantung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *