Mabes Polri Kerahkan Teknologi Mutakhir Selidiki Laka Kereta di Tebing Tinggi

Analisis Digital dan Drone TAA Digunakan untuk Ungkap Penyebab Tewasnya 9 Penumpang Avanza.

WaroengBerita.com – Tebing Tinggi |Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) turun langsung menangani penyelidikan kecelakaan maut di perlintasan kereta api Jalan Abdul Hamid, Kota Tebing Tinggi. Olah tempat kejadian perkara (TKP) dilakukan menggunakan metode Traffic Accident Analysis (TAA) dengan dukungan peralatan berteknologi tinggi, Kamis (22/1/2026).

Langkah ini diambil menyusul tragedi tabrakan antara Kereta Api Sri Bilah Utama dengan sebuah mobil Toyota Avanza di perlintasan sebidang tanpa palang pintu yang menewaskan sembilan orang penumpang. Mabes Polri menilai diperlukan analisis ilmiah dan objektif guna memastikan penyebab pasti kecelakaan tersebut.

Kasubdit Laka Direktorat Penegakan Hukum (Gakkum) Korlantas Mabes Polri, Kombes Pol Mario Siregar, menjelaskan bahwa tim pusat membawa sejumlah perangkat khusus, di antaranya scanner 3D, drone TAA, serta perangkat AT8. Seluruh alat tersebut digunakan untuk merekonstruksi kejadian secara detail dan presisi.

“Scanner 3D kami gunakan untuk memindai kontur jalan dan lingkungan sekitar TKP, sementara drone TAA merekam sudut pandang dari udara. Data ini kemudian dianalisis dengan formula dan algoritma khusus,” ujar Kombes Pol Mario di lokasi.

Selain pemindaian digital, pemeriksaan manual terhadap kendaraan yang terlibat juga dilakukan untuk melengkapi data teknis, termasuk kekuatan benturan dan jarak kendaraan terseret setelah ditabrak kereta.

Atas peristiwa tersebut, Mabes Polri turut menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga para korban. Sementara itu, Kapolres Tebing Tinggi AKBP Rina menyatakan hasil resmi olah TKP belum dapat disampaikan karena masih menunggu pembahasan internal bersama Korlantas Mabes Polri.

Tragedi ini kembali menegaskan tingginya risiko kecelakaan di perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Tebing Tinggi, yang selama ini telah menjadi keluhan masyarakat namun belum tertangani secara menyeluruh.(RM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *