WaroengBerita.com – Samosir | Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Bobby Afif Nasution menegaskan pentingnya menghentikan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terus marak di kawasan Danau Toba. Seruannya ini disampaikan jelang pelaksanaan Revalidasi Toba Caldera sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark.
Peringatan tegas tersebut disampaikan Bobby saat memimpin rapat persiapan Revalidasi Toba Caldera di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, pada Senin (30/6/2025). Ia menggarisbawahi bahwa kelestarian kawasan Danau Toba merupakan tanggung jawab bersama.
“Kalau sudah ditegur dan disosialisasikan, namun masih saja membakar, tindak tegas di lapangan. Ini perlu, terutama kepada masyarakat yang membandel,” tegas Gubsu.
Sayangnya, tak lama setelah pernyataan tersebut, kebakaran justru semakin meluas. Titik api kembali terpantau sejak Senin malam hingga Rabu malam (30 Juni–2 Juli), mencakup kawasan strategis seperti Jalan Tele dan sekitar Menara Pandang Tele, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.
Kepala BPBD Samosir, Sarimpol Simanihuruk, membenarkan hal ini. Ia menyebutkan bahwa kebakaran telah meluas hingga mendekati wilayah Desa Habeahan Naburahan di Kecamatan Sianjur Mula-mula.
“Saya sendiri curiga, mungkin ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Secara logika, kenapa ini terus terjadi? Sulit diterima akal,” ujarnya.
Karhutla di Samosir hampir menjadi bencana tahunan saat musim kemarau. Pemkab Samosir dinilai masih kerap kecolongan dalam upaya pencegahan.
Tim BPBD Provinsi Sumut telah turun tangan dengan bantuan mobil tangki air. Namun, medan yang berat menjadi tantangan tersendiri.
“Kami hanya bisa melakukan pemadaman di pinggir jalan. Perbukitan sangat sulit dijangkau kendaraan. Fokus kami adalah mencegah api menjalar ke permukiman,” tambah Sarimpol.
Fenomena ini menjadi ironi di tengah gencarnya upaya Pemerintah Provinsi Sumut dalam mempertahankan status Danau Toba sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark. Jika kebakaran terus terjadi tanpa penanganan serius, citra lingkungan Danau Toba bisa menjadi sorotan negatif dalam proses revalidasi UNESCO mendatang.(Ril)












