waroengberita.com – Pasar Global, Harga Minyak Dunia Bisa Menembus 100 Dolar AS.
Harga minyak dunia yaitu Brent dan West Texas Intermediate (WTI) perlahan kian terus naik sejak awal tahun ini hingga kini masing-masing di level 69 dan 65 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.
Analis komoditas Ariston Tjendra mengatakan, naiknya harga minyak itu seiring harapan adanya pemulihan aktivitas ekonomi global akibat dampak pandemi Covid-19 yang melanda dunia.
Harga minyak mentah global saat ini berada dalam tren penguatan, dan tahun ini menyentuh level tertinggi sejak 2014. Kenaikkan harga minyak mentah diprediksi akan terus berlanjut sepanjang tahun ini.
Goldman Sachs memproyeksi, harga minyak mentah global telah menyentuh level 100 dollar AS per barrel dalam periode kuartal III-2021. Ini lebih tinggi dibanding pada proyeksi sebelumnya, di level 80 dollar AS per barrel.
Raksasa perbankan investasi itu juga memproyeksi, penguatan itu diprediksi akan terus berlanjut pada 2023, di mana harga minyak acuan global, Brent, bisa mencapai level 105 dollar AS per barrel. Ini juga lebih tinggi dibanding pada proyeksi sebelumnya, di level 85 dollar AS per barrel.
“Kami tidak akan memproyeksikan harga minyak acuan Brent diperdagangkan di atas 100 dollar AS per barrel dengan alasan sudah kehabisan cadangan, karena sumber daya serpih masih sangat besar dan juga memadai,” tulis Tim Goldman Sachs, dikutip dari CNN, Kamis (20/1/2022). Namun demikian, harga minyak serpih kami prediksi akan mengalami kenaikan ke depannya, seiring dengan mulai menurunnya minat investor ke sektor minyak, imbas dari transisi energi.
Pada sesi perdagangan hari ini, harga minyak mentah global jenis Brent diperdagangkan di angka level 87,92 dollar AS per barrel. Sementara itu, harga pada minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di angka level 86,5 dollar AS per barrel.
Investor yang kini mulai khawatir akan terjadinya pengurangan pasokan minyak mentah dari produsen raksasa Rusia dan Uni Emirat Arab akibat tensi geopolitik yang tengah terjadi, hal ini menjadi pemicu utama pada harga komoditas energi ini terus melesat.
Berbagai analis dan juga pedagang menyatakan, berbagai jenis pemadaman atau pengurangan pasokan minyak mentah secara langsung akan menurunkan harga di pasar global, mengingat saat ini permintaan di pasar global tengah mengalami peningkatan dan kekurangan stok juga terjadi di sejumlah negara.
Merebaknya Covid-19 varian Omicron juga dinilai untuk saat ini belum berdampak signifikan terhadap permintaan minyak mentah. Laporan Organisasi Negara Pengespor Minyak (OPEC) memprediksi, konsumsi minyak dunia akan mampu mencapai 100,8 juta barrel per hari pada tahun ini, naik 4,2 juta barrel per hari dibanding tahun lalu. (WB053)












