Pusat Adat Simardangiang Diresmikan, Taput Dorong Hilirisasi Kemenyan

Bupati JTP Hutabarat Tegaskan Penguatan Identitas Batak dan Ekonomi Berbasis Hutan Adat.

WaroengBerita.com – Taput|Bupati Tapanuli Utara (Taput) Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si., M.Si meresmikan Pusat Adat dan Sentra Kerajinan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Simardangiang di Desa Simardangiang, Kecamatan Pahae Julu, Kamis (12/2). Peresmian tersebut dirangkaikan dengan peluncuran buku Kemenyan di Tapanuli serta syukuran atas terlewatinya bencana alam yang sebelumnya melanda wilayah tersebut.

Acara dihadiri Ketua MHA Simardangiang Tampan Sitompul, Direktur Green Justice Indonesia (GJI) Panut Hadisiswoyo, tokoh adat, tokoh agama, serta perwakilan berbagai pemangku kepentingan. Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa JTP itu menyampaikan apresiasi atas berdirinya pusat adat yang dinilainya sarat nilai budaya dan kearifan lokal.

“Bangunan ini alami dan artistik. Kehadirannya memperkuat identitas serta jati diri kita sebagai orang Batak,” ujarnya.

Selain aspek budaya, Bupati menyoroti potensi kemenyan sebagai komoditas strategis daerah. Menurutnya, Tapanuli Utara dikenal sebagai salah satu penghasil kemenyan terbesar, sehingga perlu langkah hilirisasi agar nilai tambahnya meningkat. Pemerintah daerah, kata dia, siap mendukung pengembangan produk turunan kemenyan agar berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Usai peresmian, Bupati meninjau peralatan penyulingan kemenyan yang digunakan untuk menghasilkan bahan baku parfum. Ia meminta agar fasilitas tersebut dirawat optimal serta mendorong pembentukan kelompok usaha masyarakat. Dukungan pemasaran melalui Dekranasda juga akan diperkuat agar produk olahan kemenyan mampu menjadi komoditas unggulan selain ulos.

Dalam kesempatan itu, Bupati menerima ulos dan bibit kemenyan sebagai cinderamata. Ia mengajak masyarakat menanam minimal satu pohon kemenyan sebagai bagian dari gerakan pelestarian dan penghijauan berbasis adat.

Ketua MHA Simardangiang, Tampan Sitompul, menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah. Ia berharap pusat adat menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen lahan persawahan warga terdampak bencana, sehingga kemenyan kini menjadi tumpuan ekonomi utama.

Perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Taput, Edward Siregar, mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Senada, Direktur GJI Panut Hadisiswoyo menegaskan bahwa pusat adat merupakan simbol perjuangan leluhur menjaga ruang hidup yang lestari.

Dengan diresmikannya pusat adat tersebut, Simardangiang diharapkan menjadi model penguatan masyarakat hukum adat berbasis pelestarian hutan dan pengembangan ekonomi lokal berkelanjutan di Tapanuli Utara.(Brt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *