WaroengBerita.com – Samosir | Penyelenggaraan The 7th Geotourism Festival (Geofest) and International Conference 2026 di kawasan Waterfront City Pangururan, Kabupaten Samosir, Kamis (2/7/2026), tidak hanya menjadi ajang promosi pariwisata bertaraf internasional, tetapi juga menghadirkan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat di kawasan Danau Toba.
Ribuan wisatawan yang memadati lokasi festival mendorong meningkatnya aktivitas sektor perhotelan, homestay, kuliner, transportasi, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan event berskala internasional mampu menjadi instrumen efektif dalam menggerakkan ekonomi lokal sekaligus memperkuat daya saing destinasi wisata.
Festival yang dipusatkan di Waterfront Pangururan itu dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, anggota DPD RI, pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark, jaringan geopark nasional dan Asia Pasifik, perwakilan konsulat negara sahabat, serta berbagai pemangku kepentingan sektor pariwisata dari dalam dan luar negeri.
Wakil Bupati Samosir Ariston Tua Sidauruk mengatakan kepercayaan menjadikan Samosir sebagai tuan rumah Geotourism Festival merupakan peluang strategis untuk memperkenalkan kekayaan geologi, budaya, dan kearifan lokal Danau Toba kepada masyarakat internasional.
Menurutnya, manfaat kegiatan tersebut tidak berhenti pada promosi destinasi, tetapi juga memberi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.
“Festival ini menjadi momentum memperlihatkan bahwa pariwisata mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Hotel, homestay, restoran, pelaku UMKM hingga jasa transportasi merasakan dampak positif dari meningkatnya kunjungan wisatawan,” kata Ariston.
Ia menegaskan, keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari kualitas pelayanan yang diberikan kepada setiap pengunjung. Karena itu, pemerintah daerah meminta seluruh pelaku usaha tetap menjaga standar harga dan mengedepankan keramahan dalam melayani wisatawan.
“Kita ingin wisatawan pulang membawa pengalaman yang baik tentang Samosir. Pelayanan yang jujur, ramah, dan harga yang wajar merupakan bagian dari promosi daerah yang paling efektif,” ujarnya.
Pembukaan Geotourism Festival ditandai dengan pemukulan gondang oleh Wakil Bupati Samosir bersama Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Utara serta unsur Forkopimda sebagai simbol dimulainya rangkaian festival.
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia juga memberikan apresiasi atas sinergi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Samosir, dan pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark dalam menghadirkan festival yang dinilai sejalan dengan upaya pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan berbasis geopark.
Selain forum ilmiah internasional, festival turut menampilkan kekayaan seni budaya Batak dan multietnis Sumatera Utara melalui pertunjukan tari tradisional, pameran ekonomi kreatif, hingga hiburan musik yang menyedot perhatian ribuan pengunjung.
Lonjakan transaksi di stan kuliner, kerajinan, dan produk kreatif masyarakat menjadi indikator bahwa penyelenggaraan event internasional telah memberikan manfaat ekonomi nyata. Bagi Kabupaten Samosir, Geotourism Festival 2026 menjadi bukti bahwa pengembangan pariwisata berbasis geopark tidak hanya memperkuat citra Danau Toba di mata dunia, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi kreatif dan pemberdayaan UMKM.(Bernad)












