WaroengBerita.com – Tebing Tinggi | Pelantikan Sekretaris Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) Kota Tebing Tinggi, Minggu (29/6/2025), berujung ricuh akibat aksi demo penolakan oleh sekelompok jemaat yang dikoordinir oleh Ketua BPMJ sekaligus Anggota DPRD Tebing Tinggi, Ogamota Hulu, SH, MH. Aksi berlangsung bersamaan dengan kebaktian ibadah minggu di halaman Gereja BNKP Resort 42, Jalan Baja No.15, Kelurahan Tambangan.
Dalam orasinya, Ogamota Hulu menyampaikan penolakan keras terhadap Surat Keputusan BPMR-42 tentang Pengangkatan Sekretaris Jemaat Pengganti Antar Waktu (PAW) untuk masa pelayanan 2022–2027. Ia menilai proses pergantian sekretaris tidak sesuai aturan, karena tidak ada koordinasi dengan dirinya sebagai Ketua BPMJ yang seharusnya berwenang mengusulkan nama.
“Saya sudah coba hubungi Praeses tapi tidak direspons. Kami hanya ingin menyampaikan aspirasi secara terbuka, karena ini menyangkut marwah organisasi,” ujar Ogamota dalam orasi yang sempat membuat suasana memanas.
Menanggapi hal tersebut, Praeses Resort 42 BNKP, Pdt. Teheli Lafau, STh menjelaskan bahwa pengangkatan sekretaris baru bernama Asazatulo Hulu, SE telah melalui proses resmi. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil tahapan yang sesuai prosedur BNKP, mulai dari pengunduran diri sekretaris sebelumnya hingga persetujuan dari Badan Pengurus Harian (BPH) BNKP.
“Kami ikuti semua sesuai aturan. Bahkan SK dikeluarkan setelah ada surat persetujuan dari BPH BNKP,” terang Pdt. Teheli.
Sementara itu, salah satu jemaat, Lestarius Hia, menyayangkan aksi demonstrasi yang terjadi saat ibadah. Ia menilai tindakan Ogamota tidak mencerminkan etika sebagai pemimpin gereja sekaligus pejabat publik. “Sebagai anggota DPRD dan Ketua BPMJ, harusnya memberi contoh, bukan membuat gaduh,” ujarnya.
Lestarius juga menilai ajakan Ogamota untuk menggelar ibadah pagi pukul 10.00 WIB melanggar jadwal resmi BNKP yang sudah ditetapkan. “Tindakan ini malah memecah belah jemaat. Kami malu melihat hal seperti ini terjadi di lingkungan gereja,” pungkasnya.
Meski sempat diwarnai ketegangan, pelantikan tetap berjalan dan diakhiri dengan pengamanan situasi oleh pihak gereja. Jemaat berharap ke depan konflik internal dapat diselesaikan dengan cara yang lebih damai dan sesuai aturan gerejawi.(RM)












