WaroengBerita.com – Labuhanbatu |Anggota DPRD Kabupaten Labuhanbatu, Tommy, menilai rangkaian bencana banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi—Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat—telah masuk kategori kritis. Karena itu, ia mendesak pemerintah pusat segera menetapkan status bencana nasional demi percepatan penanganan yang lebih komprehensif.
Pernyataan tersebut disampaikan Tommy, legislator dari Fraksi PDI Perjuangan, kepada wartawan di Rantauprapat, Senin (8/12/2025). Ia menegaskan bahwa situasi yang terus berkembang menunjukkan peningkatan korban jiwa, kerusakan aset, hingga dampak psikologis berkepanjangan bagi masyarakat.
“Ini sudah sangat mendesak. Pemerintah pusat tidak boleh ragu. Banjir dan longsor yang terjadi khususnya di Sumatera Utara sudah layak ditetapkan sebagai bencana nasional,” ujar Tommy.
Menurut data yang ia pantau dari berbagai sumber, jumlah korban meninggal dunia mendekati seribu jiwa, belum termasuk korban hilang maupun luka-luka. Kerusakan fasilitas umum juga dinilai sangat parah, meliputi jalan yang terputus, jembatan runtuh, rumah warga, tempat ibadah, hingga gedung pemerintahan.
Tommy yang turun langsung ke lokasi pada hari kedua pascabencana menilai dampak psikologis masyarakat sangat mengkhawatirkan. Warga banyak kehilangan keluarga, rumah, lahan pertanian, bahkan mata pencaharian, yang memicu tekanan mental berat serta risiko trauma jangka panjang.
Ia menilai negara perlu hadir secara penuh, termasuk menyediakan dukungan tenaga profesional, psikolog, dan relawan berskala nasional maupun internasional. Penetapan bencana nasional, menurutnya, menjadi langkah strategis untuk membuka akses bantuan lebih luas.
“Ini soal kemanusiaan. Kabupaten dan kota tidak punya anggaran cukup akibat pemangkasan. Pemerintah pusat harus turun tangan agar pemulihan berjalan cepat dan menyeluruh,” tegasnya.
Berdasarkan data BNPB, sedikitnya 52 kabupaten/kota terdampak dengan 24 wilayah berada pada kondisi terparah. Jumlah korban meninggal mencapai 961 jiwa, korban hilang 234 jiwa, sementara lebih dari 5.000 warga luka-luka.
Kerusakan fasilitas tercatat sebanyak 156 ribu unit, terdiri dari 1.200 fasilitas umum, 199 fasilitas kesehatan, 534 fasilitas pendidikan, 420 rumah ibadah, 234 gedung/kantor, serta 435 jembatan yang rusak akibat bencana.(AS)












